Bloody Restaurant & Close Store, pemilik Deg-Degan Mall

Jakarta, CNBC Indonesia – Pengelola mal mengakui bahwa banyak restoran yang bersiap mengosongkan ruang sewa mal mereka karena kesulitan keuangan. Keadaan ini memprihatinkan, apalagi restoran merupakan salah satu tenant yang berperan menarik pengunjung dan proporsinya tidak sedikit.

Sebaliknya, pengelola mal terengah-engah atau terkendala arus kas karena tidak semua penyewa yang beroperasi berdampak pada penutupan mal di DKI Jakarta yang membebani bisnis mereka. Sayangnya, insentif pemerintah daerah tidak banyak membantu.

Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Perbelanjaan Indonesia (APPBI), Alphonsus Widjaja, bahkan menyatakan, relaksasi tak menyelesaikan masalah.


“Pemerintah DKI sudah mencairkan Pajak Properti dan Bangunan (PBB), tapi dicicil. Bisa dicicil Oktober, November, dan Desember. Tiga kali angsuran. Tapi, kami yakin ini tidak menyelesaikan masalah” , dia berkata CNBC Indonesia, Jumat (9/10).

Kebijakan pelonggaran yang ditetapkan Pemprov DKI sudah lama didasarkan pada penerapan pengusaha di pusat perbelanjaan. Para pengusaha merasa bahwa kemudahan yang harus diberikan adalah pembebasan PBB, baliho dan tempat parkir, dan bukan sekedar menunda pembayaran. Pasalnya, pendapatan yang biasanya diperoleh saat ini semakin menipis karena ketatnya PSBB.

“Masalahnya dana cadangan tidak ada. Jadi darimana uangnya dicicil? Ini masalahnya. Kalau kelonggaran diberikan di pertengahan tahun, mungkin karena ada dan cadangannya. Sekarang semakin menipis, dananya menjadi lebih sedikit Uang beredar kurang lebih. Dari mana dana mencicil mulai sekarang? Kebijakan Pemprov DKI tidak menyelesaikan masalah, ”ujarnya.

Mantan Ketua APPBI yang kini menjadi Badan Pembangunan, Stefanus Ridwan, pernah mengungkapkan, pajak yang harus dibayar pusat perbelanjaan kepada pemerintah daerah tidak sedikit. Dia mengatakan pusat perbelanjaan besar dengan status Kelas A memiliki kewajiban pajak hingga $ 10 miliar setahun hanya untuk PBB.

READ  Suzuki menjadi model terlaris, meluncurkan facelift carry minggu depan

“Total (pajak properti dan bangunan) koka (Kota Kasablanka) sekitar Rp 30 miliar. Jadi menurut saya tidak mudah. ​​Darimana Anda dapat uangnya? Tidak ada (penghasilan) apa pun,” kata Stefanus, Senin. 27 /) 4).

[Gambas:Video CNBC]

(Hai hai)


Written By
More from Said Rafiq

Yamaha Optimistic MT Series menghadirkan sepeda motor yang bernilai mobil ke pasar

Suara.com – PT Pabrikan Motor Yamaha Indonesia (YIMM) baru saja dimulai Yamaha...
Read More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *