Dana bersubsidi yang tersedia, merupakan sinyal bagi pengembang dan bank untuk memulai kembali bisnis swasta

Dana bersubsidi yang tersedia, merupakan sinyal bagi pengembang dan bank untuk memulai kembali bisnis swasta

JAKARTA, KOMPAS.com – selubung merupakan sektor yang penting karena dapat memajukan berbagai sektor lainnya, mulai dari jasa hingga bahan bangunan hingga mempengaruhi perkembangan sektor keuangan.

Selain itu, sektor selubung juga mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dan menciptakan banyak pekerjaan.

Oleh karena itu, pemerintah sedang menyusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 dengan orientasi kebijakan untuk secara bertahap meningkatkan akses masyarakat terhadap perumahan dan permukiman, aman dan terjangkau, untuk mewujudkan kota yang inklusif dan layak huni.

Direktur Jenderal pembiayaan Eko Djoeli Heripoerwanto, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, mengatakan target selama lima tahun terakhir adalah intervensi langsung pemerintah terhadap 5 juta rumah.

Baca juga: 1 Maret 2021, Beli Rumah DP 0 persen resmi berlaku

Jumlah tersebut sudah termasuk target kerjasama pemerintah pusat, pemerintah daerah, swasta dan masyarakat sebesar 3,45 juta unit, subsidi perumahan dari Fasilitas Likuiditas. Pembiayaan perumahan (( FLPP), Subsidi selisih bunga (SSB) dan subsidi uang muka (SBUM) 900.000 unit.

Kemudian Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera) 500.000 unit, Fasilitas Keuangan Multigriya (SMF) 50.000 unit dan bantuan bersubsidi. Pembiayaan perumahan Tabungan Berbasis (BP2TB) 100.000 unit.

“Tahun ini Rs. 16,6 triliun untuk FLPP 157.500 unit, Rs.267 triliun untuk BP2BT untuk Rs.66750 unit, Rs. 5.96 triliun untuk SSB 859.582 unit, dan Rs. 630 miliar untuk SBUM 157.500 unit,” ujar Eko di sela acara. webinar Indonesia Property Outlook 2021, Rabu (24 Februari 2021).

Menurut Eko, angka-angka tersebut menjadi sinyal bagi developer dan perbankan untuk mempermudah Pembiayaan real estat KPR Bersubsidi yang diperuntukkan bagi fasilitas likuiditas pada tahun 2021 pembiayaan Perumahan (FLPP) dihargai.

“Ini untuk menginformasikan kepada mitra pemerintah tentang pembangunan rumah bersubsidi ini dan untuk memastikan dana tersedia dan operasional,” lanjut Eko.

READ  Isu dana nasabah BRI Rp 400 juta lenyap, rupanya tak ada setoran

Baca juga: Orang Bandung lebih suka cari rumah di Bandung, bagaimana dengan Depok?

Untuk mempercepat pencapaian tujuan RPJMN, pemerintah juga sudah mulai membahas APBN 2022, menurut Eko.

Anggaran yang dialokasikan untuk FLPP adalah 23 triliun rupee yang akan diterima dari dana bergulir sebesar 3,9 triliun rupee dan usulan DIPA 2022 sebesar 19,1 triliun rupee.

Anggaran sebesar ini menyediakan pembiayaan untuk 200.000 unit hunian.

Kemudian anggaran SSB yang dibayarkan untuk tahun sebelumnya (ulang tahun) sebesar Rp4,39 triliun untuk 769.903 unit, SBUM Rp810 miliar untuk 200.000 unit dan BP2BT Rp100 miliar untuk 312 unit.

“Kami akan memiliki dana hingga setidaknya 2022 jika pengembang lain berencana untuk kembali ke real estat,” lanjut Eko.

Strategi pasca integrasi

Selain itu, pemerintah telah menyiapkan sejumlah inovasi kegiatan pasca integrasi FLPP di BP Tapera.

“Ada empat kegiatan inovatif untuk tahun anggaran 2022-2024,” kata Eko.

Baca juga: Sektor MBR informal menerima fasilitas pembangunan rumah

pertama Integrasi peringkat kredit dan pengembangan Antrian perumahan sebagai dasar penyaluran bantuan Pembiayaan real estat.

Kedua, penerapan SiKasep, SiKumbang dan SiPetruk untuk menjamin akurasi kesejajaran dan kualitas bangunan.

Ketiga, memperbaiki sistem BP2BT dan FLPP, khususnya untuk sektor informal. Keempat, memperluas program BP2BT dan FLPP untuk mendukung pendanaan melalui situs Kirim.

Pemerintah juga telah menyiapkan perangkat kelembagaan untuk melaksanakan kebijakan dan program perumahan, yaitu Badan Percepatan Perumahan (BP3).

Tujuannya untuk mempercepat penggelaran rumah rakyat agar rumah rakyat hanya dimiliki dan dihuni oleh masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Memastikan terwujudnya prinsip keunggulan perumahan rakyat dan melaksanakan berbagai langkah di bidang rumah umum dan rumah khusus.

Hal itu ditetapkan Presiden Joko Widodo melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 9 Tahun 2121 tentang Badan Percepatan Pengelolaan Perumahan.

READ  Mark Zuckerberg berbicara tentang kebijakan baru WhatsApp

Peraturan tersebut sekaligus merupakan kelanjutan dari ketentuan Pasal 50 dan Pasal 185 huruf b Undang-Undang (UU) Nomor 11 Tahun 2020 tentang Penciptaan Lapangan Kerja.

We will be happy to hear your thoughts

Hinterlasse einen Kommentar

polressidrap.com