Inilah biang keladi tanah di Ambles Jawa Tengah setiap tahun

Memuat…

JAKARTA – Masyarakat Jawa Tengah perlu mulai beradaptasi dan mengantisipasi penurunan muka tanah yang akan terus berlanjut di wilayah pesisir utara. Studi oleh Pusat Geologi Air Tanah dan Lingkungan (PATGL) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Alam menemukan bahwa beberapa daerah ini telah menyusut antara 6 dan 10 sentimeter (cm) per tahun. BACA JUGA – Berdenyut Selama 26 Detik Anggota Sebutkan Bumi dalam Situasi Kritis

Ketua PATGL Andiani menyatakan fenomena penurunan muka tanah akan terpantau sepenuhnya pada 2020. “Kami melihat amblesan terjadi di sejumlah wilayah, meski kami tidak melakukan studi keparahan,” kata Andiani dalam siaran pers resminya, Selasa (11/1) / 2020). BACA JUGA – Air Laut Terus Meningkat, NASA Selidiki Gejala Tak Biasa Bumi dari Luar Angkasa

Berdasarkan hasil pantauan tersebut, kata Andiani, penurunan muka tanah di wilayah Semarang bisa mencapai lebih dari 10 cm per tahun. Di wilayah Pekalongan sudah sekitar 0,5 cm per bulan sejak pemantauan Mei 2020. Jumlah tersebut sejalan dengan hasil pemantauan yang dilakukan di Kendal pada tahun 2016.

Andiani mengungkapkan, sebagian besar areal yang ambruk terjadi di areal pertanian dan areal tambak ikan. “Kita lihat amblesan di daerah yang belum terbangun (infrastruktur). Seperti di Kendal yang sedang dibangun kawasan ekonomi khusus. Begitu pula untuk kawasan Pekalongan lebih banyak terdapat pemukiman, tambak dan pertanian yang sudah dibangun. Terendam. Demak juga sama,” katanya. dia menjelaskan.

Salah satu penyebab utama dari hasil analisis PATGL adalah dominansi lempung (clay) dalam struktur geologi. “Selama ini masyarakat percaya bahwa pengambilan airtanah menyebabkan penurunan airtanah. Kemudian kami melihat bahwa sebaran lempung lebih dominan. Lempung ini berkontribusi terhadap penurunan karena lempung tersebut masih muda dan masih memadat,” kata Andiani.

READ  Astronot NASA dan SpaceX tiba di stasiun luar angkasa

Bukti ini didukung kuat oleh bukti di bidang ini. Area batang yang tidak memiliki sedimen tanah liat tidak mengalami penurunan muka tanah. “Setidaknya dari spesifikasi tersebut membuat kami percaya bahwa nada inilah yang menjadi penyebab utama penurunan muka tanah,” kata Andiani.

Namun, Andiani menuturkan, pengambilan airtanah bisa menjadi salah satu pemicu penurunan permukaan tanah yang lebih cepat. Dari hasil pemantauan terlihat bahwa aktivitas menurun lebih dari 70 meter. Kami melihat tabel air masih terlihat di atas aktivator atas. Artinya abstraksi air menyebabkan penurunan muka air tanah, hal ini tapi belum terbukti secara ilmiah, ”ujarnya.

(wbs)

Written By
More from Said Rafiq

PSBB DKI, Ada 5 syarat terbang dan mendarat di Soetta

Jakarta, CNBC Indonesia – Pembatasan Sosial Skala Besar (PSBB) mulai berlaku pada...
Read More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *