Mega-merger Bank Syariah BUMN, tidak ada tawaran pengambilalihan!

Jakarta, CNBC Indonesia – Mega-merger tiga bank syariah milik negara, dimana PT Bank BRISyariah Tbk (BRIS) tetap sebagai penerima merger, tidak dikenakan kewajiban penawaran apapun. Tawaran pengambilalihan atau persyaratan bahwa pengontrol baru membeli saham publik yang beredar.

Berdasarkan ringkasan rencana merger yang dipublikasikan tiga bank syariah di media massa, Rabu (21/10/2020), penawaran pengambilalihan tersebut tidak dilakukan, karena tidak ada perubahan kendali tidak langsung dengan merger ketiga bank tersebut.

Pemegang saham terakhir, juga dikenal sebagai pemegang saham terakhir, tetap menjadi pemerintah. Sebelum merger, pengendali BRIS adalah PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) milik negara.


Setelah merger berlaku efektif pada 1 Februari 2021, pengendali menjadi PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) dengan kepemilikan 51%, keduanya adalah BUMN.

Komposisi pemegang saham BRIS lainnya setelah merger adalah PT Bank Negara Indonesia Tbk. (BBNI) 25,0%, BBRI 17,4%, DPLK BRI – Syariah 2% dan publik 4,4%.

Per Juni 2020, 18,34% saham BRIS dimiliki publik, sedangkan BBRI dimiliki oleh 73% dan 8,6% oleh DPLK BRI.

“Sementara itu, Pemerintah Republik Indonesia secara tidak langsung tetap mempertahankan BRIS sebagai bank yang menerima pinjaman,” tulis prospektus ketiga bank syariah tersebut.

“Oleh karena itu, kombinasi ini menghasilkan perubahan kontrol langsung, tetapi bukan perubahan kontrol tidak langsung.”

“Selain itu, berdasarkan Peraturan OJK Nomor 9 / POJK.04 / 2018 tentang Pengambilalihan Perusahaan Terbuka, perubahan pengendalian akibat merger perusahaan dikecualikan dari ketentuan pelaksanaan pengumuman pengambilalihan dan penawaran pengambilalihan wajib.”

Mekanisme fusi

Melalui mekanisme merger ini, BRIS akan menerbitkan hingga 31,13 miliar saham baru (rights issue) sebagai bagian dari merger atau merger bank syariah BUMN dengan menerima dua perusahaan lain, yaitu PT Bank Syariah Mandiri (BSM) dan PT. BNI Syariah (BNIS).

READ  Konfirmasi adalah langkah yang tepat

Jumlah saham baru yang akan diterbitkan sebanyak 31.130..700.245 lembar saham, sehingga jumlah saham sebanyak 40.846.813.743 lembar saham (40,85 miliar lembar saham), dibandingkan sebelumnya 9.716.113.498 lembar.

Saham baru tersebut nantinya akan dikonversi atau diambil alih oleh pemegang saham baru yaitu Bank Mandiri dan BBNI.

Bank Mandiri akan memiliki hingga 20,91 miliar saham, sehingga kepemilikan sahamnya adalah 51,2% di BRIS (sebagai pengendali) dan BBNI dengan 10,23 miliar saham atau 25% saham BRIS.

Investor lainnya adalah PT BNI Life Insurance dengan 5,25 juta saham atau 0,00% dan PT Mandiri Sekuritas 34 saham atau 0,00 saham BRIS.

Pemegang saham BRIS sebelum merger

Foto: Pemegang saham BRIS sebelum merger, prospektus
Pemegang saham BRIS sebelum merger, prospektus

Pemegang saham yang ada, yaitu PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), tetap memiliki 7,09 miliar saham BRIS atau mewakili 17,4% saham BRIS.

Persentase saham Bank BRI di BRIS akan dikurangi atau dilusi dari titik sebelum merger menjadi 73% (dengan jumlah saham yang ditetapkan 7,09 miliar saham).

Jumlah saham DPLK BRI-Saham Syariah juga tetap sama yaitu 828,95 juta lembar saham atau proporsinya 2% meskipun persentasenya terdilusi sebelum BRIS merger sebesar 8,53%.

Investor publik, jumlah sahamnya tetap sama yaitu 1,79 miliar saham atau 4,4% terdilusi dari sebelumnya 18,47% (dengan jumlah saham tersisa sebesar 1,79 miliar saham).

Pemegang saham BRIS setelah merger

Pemegang saham BRIS setelah penggabungan, prospektusFoto: Pemegang saham BRIS setelah merger, prospektus
Pemegang saham BRIS setelah penggabungan, prospektus

Dalam prospektus dijelaskan skema konversi saham. Setiap saham yang dimiliki oleh pemegang saham BSM berhak atas tambahan 34.9700 saham BRIS (termasuk penambahan total 20,91 miliar saham BRIS), yang merupakan peningkatan modal sebesar 51,2% di BRIS.

READ  Mulai 1 Desember, pembelian di Bukalapak Cs akan dikenakan PPN 10 persen

Sementara itu, setiap saham yang dimiliki oleh pemegang saham BNIS berhak atas tambahan 3.500.2677 saham BRIS (termasuk total 10,23 miliar saham BRIS) yang merupakan peningkatan modal sebesar 25,0% di BRIS.

“Oleh karena itu jumlah saham yang diterbitkan oleh Bank Yang Menerima Penggabungan [BRIS] pada Tanggal Efektif Penggabungan [1 Februari 2021] sebanyak 40,85 miliar saham, dimana 31,13 miliar saham baru akan diterbitkan, ”tulis manajemen BRIS.

Berdasarkan laporan penilaian KJPP oleh Suwendho, Rinaldy dan Rekan, nilai valuasi BRIS mencapai Rp 7,59 triliun.

Pada tanggal 30 Juni 2020, 9.716.113.498 saham BRIS telah beredar. Dengan demikian, valuasi keseluruhan per saham BRIS adalah Rp 781,29.

Berdasarkan Laporan Penilaian KJPP Kusnanto dan Rekan, nilai valuasi BSM adalah Rp 16,33 triliun. Pada tanggal 30 Juni 2020, sebanyak 597.804.387 saham telah beredar. Dengan demikian, total valuasi per saham BSM adalah Rp 27.321,67.

Berdasarkan laporan valuasi KJPP Iwan Bachron and Partners, nilai valuasi BNIS adalah Rp 7,99 triliun. Pada tanggal 30 Juni 2020, 2.921.335 saham BNIS telah beredar. Dengan demikian, total valuasi per saham BNIS adalah Rp 2.734.726,87.

“Dengan merger ini, BMRI akan mengoperasikan BRIS sebagai bank penerima merger,” tulis prospektus tersebut.

[Gambas:Video CNBC]

(Tas tas)


Written By
More from Said Rafiq

Suzuki Jimny 5 pintu siap rilis tahun depan

Senin, 5 Oktober 2020 – 19:39 WIB Suzuki Jimny lima pintu. Foto:...
Read More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *