Organisasi Muslim Amerika mengutuk keputusan Trump untuk mengampuni “ penjahat …

Memuat…

WASHINGTON – Organisasi hak-hak sipil Muslim terbesar Amerika Serikat (AS) mengutuk keputusan Presiden Donald Trump untuk memberikan grasi kepada empat mantan kontraktor Blackwater yang dihukum karena membunuh warga sipil Irak . Empat orang termasuk dalam daftar dari 15 orang yang memperoleh grasi dari Trump.

Keempat pria tersebut, yaitu Nicholas Slatten, Paul Slough, Evan Liberty dan Dustin Heard, yang bekerja di Irak pada tahun 2007, dihukum karena membunuh 14 warga sipil Irak dalam kejahatan yang dihukum secara internasional. ( Baca juga: Afghanistan Minta Indonesia Jadi Fasilitator Pertemuan Ulama Asia )

Direktur Eksekutif Nasional Dewan Hubungan Amerika-Islam (CAIR), Nihad Awad, mengatakan putusan itu kurang menghormati sistem hukum AS dan kesucian hidup manusia, terutama kehidupan Muslim dan rakyatnya. warna.

“Tentara bayaran Blackwater ini dihukum karena melakukan salah satu kejahatan perang paling terkenal dari pendudukan AS di Irak. Memaafkan mereka adalah tindakan kegilaan moral yang tidak masuk akal,” kata Awad, sebagai Agensi Anadolu melaporkan pada Kamis (24/12/2020).

Sebelumnya, Kementerian Luar Negeri Irak telah mendesak Amerika Serikat mempertimbangkan kembali keputusannya untuk memberikan amnesti kepada keempatnya. ( Baca juga: Dewan Hak Asasi Manusia menyalahkan Trump karena memaafkan pelaku pembantaian Baghdad )

“Kementerian percaya bahwa keputusan ini tidak memperhitungkan beratnya kejahatan yang dilakukan dan sayangnya mengabaikan martabat para korban serta perasaan dan hak keluarga mereka,” katanya.

“Kementerian akan menindaklanjuti masalah tersebut dengan pemerintah AS melalui saluran diplomatik untuk mendesaknya mempertimbangkan kembali keputusan grasi,” lanjutnya.

(esn)

READ  Erick Thohir Ungkap Harga Vaksin Covid-19 di Indonesia
Written By
More from Kaheela Miah

Ketakutan Eropa yang semakin meningkat terhadap drone Turki dan Azerbaijan

Memuat… BRUSSELS – Drone sukses Turki dan Azerbaijan dalam pertempuran Nagorno-Karabakh semakin...
Read More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *